Hari ini aku ikut ayah melaut.

Membantunya menjaring ikan–pekerjaan yang ia lakukan sejak ia berumur 10 tahun.

Bang Kasim, yang biasanya menemaninya tidak bisa melakukan tugas itu karena sakit.

Awalnya aku menolak.

Karena aku tahu kami yang berangkat di kala pekat malam menyelimuti bumi ini akan kembali di kala matahari dhuha, yang mana artinya aku akan terlambat ke sekolah atau ya tidak akan pergi ke sekolah sama sekali.

“Ayah tahu, kamu anak yang rajin  ke sekolah. sekali-kali bolos ayah rasa tak apa. Toh ini juga demi keluarga.” kata ayah, menanggapi keengananku.

Ah ayah, bukannya aku tidak mau membantu ayah. Tapi sudah banyak contoh di depan mataku. Teman-teman yang satu per satu berhenti sekolah dan membantu ayah mereka jadi nelayan. Aku tidak mau seperti itu ayah. Karena aku tahu satu-satunya cara untuk mengubah kehidupan kita adalah dengan sekolah setinggi-tingginya supaya nantinya aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak.

Tapi hari ini, untuk pertama kalinya otakku dipenuhi dengan pikiran bagaimana caranya menangkap ikan yang banyak lantas menjualnya ke pasar dan akhirnya kembali pulang ke rumah dengan menyerahkan sejumlah uang ke emak supaya asap dapur tetap mengepul.

Aku gemetar ayah…

gemetar memikirkan petualangan pertamaku

gemetar memikirkan ibu guru yang akan marah atas keabsenanku…

tapi kau tak merasakannya….

palembang, 18 oktober 2011