Dimuat di majalah Kawanku tahun 2010

Aku terhenyak. Ini de ja vu.Ya benar! Tepat di malam hari kala hujan deras membasahi bumi. Tepat di depan pintu ini.
****

Dulu rumah besar ini terasa nyaman bagiku.Sampai suatu saat, aku berteman dengan Lara—anak orang kaya yang selalu dititipkan ibunya di tempat penitipan anak di depan lorong masuk rumahku. Karena dialah, aku mulai meragukan statusku di rumah ini.

Terburu-buru aku berlari menuju sebuah ruangan kecil yang berada di samping rumah. Pintu ruangan itu setengah terbuka. Kulirik sekilas papan kecil diatas pintu yang bertuliskan KANTOR. Pintu itu kubuka lebar-lebar.
“Bu Firda, dimana ayah ibuku?” teriakku.
Wajah Bu Firda seketika memberengut. Ia minta maaf pada laki-laki berpakaian necis di depannya. Aku terpaku, sekilas teringat pada pesan Bu Firda agar aku tak menganggunya karena dia akan kedatangan tamu yang mau menyumbangkan dana. Bu Firda menarikku keluar. Ia berlutut di depanku sambil mendesah panjang.
“Ibu sudah bilang sama Katia. Jangan ganggu ibu kalau lagi kerja.”
“Tapi,”selaku.”Ibu belum jawab pertanyaanku. Ibu pasti tahu dimana mereka,kan?”
“Kamu pasti diomongin macam-macam ya sama Lara. Ibu sudah bilang jangan ke tempat itu lagi.” Aku menutup telinga, bosan.Kuhentakkan kakiku berkali-kali, tanda kesabaranku sudah habis.
“Ya ampun, tak terasa, hari sudah siang. Sebentar lagi kakak-kakakmu pulang sekolah. Sayang ya , Katia baru lima tahun, belum bisa masuk sekolah.”
Aku mendegus, sebal. Kalau dia sudah mengalihkan pembicaraan seperti itu, tandanya ia segan menjawab.Dan memang benar. Aku pergi dengan kesal. Di depan pagar, aku berhenti, melirik sekilas papan nama tak jauh dariku: PANTI ASUHAN AN-NUR.

Seketika aku teringat kata-kata Lara seminggu yang lalu. Katanya anak-anak yang tinggal di panti asuhan tak punya orang tua atau memang sengaja ditinggalkan.Walau begitu, aku tak percaya sepenuhnya. Kutanya Kak Ida dan Kak Ratna.
“Kak Ida, apa kakak punya orang tua?” tanyaku saat ia tengah belajar.
“Ya, iyalah Katia.”jawab Kak Ratna.”Ia rajin belajar seperti itu demi meraih juara umum dan beasiswa masuk universitas negeri ternama. Ida tuh mau menunjukkan sama orang tuanya yang sudah bercerai itu, kalau mereka sudah salah meninggalkan dia di panti asuhan.”
“Kalau kak Ratna sendiri, bagaimana?”
“Ya, tentu saja punya! Masing-masing kita punya orang tua. Bu Firda cuma orang tua angkat kita yang diberi amanah sama Tuhan untuk mengurus kita.”
Aku kaget. Jadi benar yang dikatakan Lara. Aku mau bertanya lagi tapi entah kenapa Kak Ida memarahi Kak Ratna,” Hus,Ratna!Dia masih terlalu kecil untuk tahu yang sebenarnya. Kalau Bu Firda tahu bisa diomelin kamu!”

Wajah Kak Ratna memucat. Ia memintaku untuk tak bercerita pada Bu Firda. Mereka pun meninggalkan aku. Tak puas, kutemui Mbok Welas, tukang masak kami yang sudah berumur 60 tahun. Akhirnya ia mengatakan kebenarannya padaku. Bu Firda tak punya anak. Anaknya sudah meninggal lama sekali saat masih bayi.Lalu saat kutanyakan padanya dimana kedua orang tuaku, ia hanya diam membisu.

Kuhampiri Bu Firda,menanyakan satu pertanyaan sederhana itu. Dan entah kenapa, wajahnya memucat seperti Mbok Welas. Ia menghindariku berkali-kali bahkan mengalihkan pembicaraan seperti tadi. Kenapa mereka tak mau menjawab?
Kualihkan perhatianku dari papan nama itu dan kuputuskan untuk menemui Lara di tempat penitipan anak. Namun sayang, Lara tak datang. Aku terpaku, bingung harus kemana. Aku tak mau pulang ke panti asuhan. Kenapa harus tinggal disana bila ada rumah orang tua sendiri. Tapi dimana mereka?
*****

Aku berjalan tanpa tujuan sendirian, menyusuri jalanan yang ramai. Aku bertanya pada orang-orang yang aku temui, dimana orang tuaku. Tapi mereka tak tahu. Hari mulai gelap dan aku sangat letih.
Adzan maghrib baru saja berkumandang dari sebuah masjid tak jauh dariku. Orang-orang berbondong-bondong pergi kesana.Pasti sekarang seisi panti sedang bersiap-siap sholat maghrib berjemaah. Kak Iwan, kakakku yang paling alim itu, pasti sudah berdiri di depan sekali diatas sejadahnya, menjadi imam. Serta merta aku teringat pesannya, bila kita mengalami kesulitan dimanapun dan kapan pun, berdoalah pada Tuhan. Dia pasti mengabulkan doa kita.

Dan begitulah, aku masuk ke masjid itu, ikut sholat berjemaah. Aku sengaja berlama-lama berdoa sehabis sholat. Dalam otak kecilku ini tersimpan berjuta pertanyaan berbalut kekecewaan. Ya Allah, kenapa mereka meninggalkan aku di tempat itu? Tak sayangkah mereka padaku?
“Katia, duh Katia!Ini bener kamu?Alhamdulillah ya Allah.”
Aku mendongak pada laki-laki di sebelahku, pak Imron, penjaga panti asuhan kami. Wajahnya cemas luar biasa
“Katia sayang, kami semua mencarimu kemana-mana. Yuk pulang, yuk.”ajaknya. Aku menggeleng.
“Tidak mau pak. Allah belum memberitahuku dimana ayah ibuku.”
Tangis Pak Imron pecah, lantas ia memelukku. Sekali lagi ia membujukku pulang. Dan akhirnya aku pun mengangguk. Aku lapar, capek dan mengantuk. Pak Imron menggendongku. Kami pun pulang. Dan rasanya seperti dalam mimpi, aku melihat dan mendengar tangis Bu Firda.
***

Rumah bercat putih itu begitu sederhana. Sebuah papan nama kecil tertempel di pintunya: Bidan Elisa. Aku melangkah masuk. Sebuah kamar dengan sebuah boks bayi di dalamnya, menarik perhatianku. Aku masuk dan mendapati seorang bayi mungil tertidur pulas disana.
Tiba-tiba sebuah tangan dengan kasar mengangkat bayi itu. Aku mendongak, hendak marah. Tapi aku terpaku mengetahui orang itu adalah seorang laki-laki remaja dengan wajah penuh kebencian. Lalu terdengar suara derit ranjang. Seorang perempuan yang juga masih remaja mendekat, merebut bayi itu.

“Kita sudah membuang banyak waktu. Sekarang putuskan, dia akan dibunuh atau dibuang!” kata laki-laki itu, tegas. Perempuan itu menatapnya, kaget.
“Aku takkan sekejam itu, Aldi! Lihatlah dia, darah daging kita.”
“Sadar, Nana! Sadar! Kita masih tujuh belas tahun, belum pantas punya bayi.Aku tak mau malu gara-gara dia!”

Perempuan itu menangis hebat membuat tubuh bayi yang ia peluk itu terguncang. Bayi itu pun mulai merengek.
“Aku menyesal sudah mengenalmu. Gara-gara kamu prestasiku menurun, masa depanku hancur. Kau tak tahu betapa hebatnya penderitaanku. Berbulan-bulan aku menyembunyikan kehamilan ini. Aku begitu ketakutan apalagi saat guru-guru mulai curiga padaku. Dan sekarang kau menyuruhku, membunuh atau membuang bayi ini. Kau sangat keterlaluan!”jerit perempuan itu..

“Jangan sok didramatisir deh!” balas laki-laki itu.” Kamunya saja yang bodoh. Aku sudah menyuruhmu aborsi jauh-jauh hari tapi kamu takut mati sia-sia seperti kakakmu, Tia. Dan sekarang tanggung sendiri akibatnya. Aku sudah cukup baik mengantarmu kesini, bahkan menyuap bidan itu supaya tutup mulut atas kelahiran bayi ini.”

Dengan masih terisak, perempuan itu mencoba menenangkan bayinya yang menangis.
“Aku akan memberikannya pada bidan itu. Dia hanya punya satu anak. Dia pasti mau mengurusnya.” katanya. Sontak laki-laki itu tertawa keras.
“Kamu akan memberikan bayi ini pada bidan itu? Buat apa? Supaya dia bisa memerasmu tiap bulan? Apa kamu mampu? Orang tuamu saja kerjanya serabutan. Aku sih bisa saja melakukannya, tapi sayang aku tak sudi!Kalau kamu tak mau membereskannya, biar aku saja!”

Laki-laki itu menarik sang bayi. Perempuan itu tak terima. Lalu terjadilah tarik-menarik antara mereka. Aku menjerit, ketakutan. Bayi itu pun menangis kencang. Kucoba meraih bayi itu.Tapi anehnya, tak bisa. Aku seperti hantu yang menembus mereka.
Perempuan itu akhirnya berhasil mempertahankan bayinya.
“Baik! Biar aku yang membuang bayi ini malam ini juga! Kau tak usah ikut campur!”
“Oke!” ujar laki-laki itu dengan nafas ngos-ngosan,”Aku percaya padamu. Dan mulai detik ini, kita tak ada hubungan apa-apa lagi, mengerti?”
Dengan kesal, laki-laki itu pergi sambil membanting pintu. Si perempuan kembali terisak. Aku terpaku, tak bisa berbuat apa-apa.
****

Hujan turun dengan derasnya malam itu. Perempuan itu melangkah dengan hati-hati, menelusuri sebuah jalan. Sebelah tangan memegang payung, sebelahnya lagi mengepit sebuah keranjang berisi bayi yang diselimuti jaket tebal.

Ia membuka pagar sebuah rumah besar,melangkah sampai ke terasnya. Diturunkannya keranjang itu di depan pintu. Ditatapnya bayi yang tengah tertidur pulas itu dengan linangan air mata.
“Maafkan ibu, anakku. Maafkan ibu, Suatu saat kalau ibu sudah kaya raya, ibu akan menjemputmu.”
Ia mengeluarkan sebuah kertas terlipat dua dari sakunya, lantas diselipkannya di balik jaket tebal itu.

Diciumnya bayinya itu dua kali sebelum akhirnya mengetuk pintu keras-keras lalu secepat kilat pergi dari sana. Aku hendak mengejarnya, tapi saat pintu rumah itu terbuka, aku terpaku. Seorang anak mirip Kak Ida waktu kecil keluar. Ia berteriak. Dan pada hitungan detik, berkumpullah seisi rimah.Aku gemetar. Disana ada Bu Firda, serta kakak-kakakku dengan wajah yang lebih muda.
Kak Ida menarik kertas dari balik selimut dan membacanya

“Tolong besarkan anak ini dengan baik. Dia punya hak untuk hidup. Namanya Katia.” Aku menjerit pelan. Itu aku, aku waktu bayi.

Bu Firda memanggil Pak Imron, memintanya memeriksa jalan kalau-kalau ibu sang bayi masih ada. Pak Imron pergi. Bayi itu dikerumuni.
“Bu, bagaimana kalau dia kita rawat. Kita kan tidak punya adik bayi.” celetuk salah seorang diantara mereka. Bu Firda mengangguk. Anak-anak berteriak senang. Keranjang bayi itu dibawa masuk.
Tak lama kemudian, Pak Imron datang, “Sudah jauh bu. Dia masih remaja.”
“Ah…! Kisah yang terus terulang,”desah Bu Firda.
Mereka berdua masuk ke rumah. Aku terdiam disana. Aku tahu dimana ini. Akhirnya aku tahu siapa orang tuaku.
*****

“Katia, Katia!” Seseorang memanggil namaku dengan lembut. Ia mengusap rambutku. Kubuka mata ini dan kulihat Bu Firda duduk di sampingku dengan mata basah. Sebuah handuk dingin menempel di keningku. Kenapa aku?
“Oh sayang, kau sadar juga. Semalaman kau mengigau terus. Kami benar-benar khawatir.” Aku menelan ludah. Rasanya pahit.
“Bu, aku tahu kenapa mereka membuangku.”kataku, pelan. Bu Firda kaget.
“Apa maksudmu, sayang? Sungguh ibu minta maaf. Ibu tidak siap dengan pertanyaanmu itu. Ibu takut kalau ibu memberitahumu yang sebenarnya, itu akan menyakiti perasaanmu. Bila ibu bohong, itu akan berdampak untuk hari-harimu nanti.”
“Bu, mereka malu punya anak. Mereka masih tujuh belas tahun.” ujarku. Tanpa terasa air mataku berlinang. Bu Firda menggenggam tanganku.
“Sayang, percayalah. Bu Firda dan semua kakakmu sangat menyayangimu. Kamilah keluargamu.”
*****
De ja vu! Hujan deras, sebuah keranjang berisi bayi di depan pintu. Seisi panti mengerumuni. Bu Firda yang sudah berumur setengah abad lebih memanggil pak Imron yang kini berusia 60 tahun, memintanya menengok jalan lagi. Kutarik sebuah kertas yang terselip di balik selimutnya dan kubaca.

“Tolong besarkan anak ini. Dia pantas hidup dengan layak. Namanya Tiara.”
Mereka, adik-adikku serta kakak-kakakku yang masih tinggal disini, berteriak senang. Mereka punya adik baru. Keranjang bayi itu dibawa masuk. Pak Imron yang mulai ringkih itu datang dan berucap “remaja bu”. Bu Firda menggeleng, menatapku sekilas.

Selalu dan selalu.Entah sudah berapa kali. Aku yang sudah berusia tujuh belas tahun ini telah menerima takdirku, tinggal disini. Aku juga tak berharap ibuku datang menjemput. Tapi bayi itu, bagaimana bila sepertiku, di usianya yang masih balita bertanya,” Bu Firda, ayah ibuku dimana?” Aku jadi mengerti kenapa pertanyaan itu begitu sulit dijawab.Ah, sampai kapan ini berakhir?
****
Palembang, 290508