Cerpen ini dimuat di majalah SEKAR edisi agustus 2010

Kepalaku terasa pusing. Sudah puluhan kali angka-angka di kalkulator kutekan dan hasilnya masih saja tak memuaskan. Oh Tuhan! Semua faktur dan nota telah kuhitung, semua pendapatan telah kucatat
dengan baik, sisa uang telah kuhitung berulang-ulang, dan hasilnya jumlah pengeluaran lebih besar daripada yang semestinya.

“Bu Deswita, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa pengeluaran kita bulan ini berbeda dengan yang dilaporkan?”

Pandanganku rasanya nanar.

Perusahaan ini punya 2 wakil bendahara, aku dan Rani. Sudah dua minggu ini, Rani cuti. Ia dirawat intensif di rumah sakit karena menderita kanker rahim stadium empat. Aku pun mengambil alih pekerjaannya. Haruskah kukatakan,”Pak kurasa,Bu Ranilah yang mengambil uangnya.” Lantas perusahaan akan memecatnya dan bocah-bocah kecilnya serta suaminya hanya akan menatap pilu;bagaimana bisa makan? bagaimana biaya rumah sakit? Mengingat itu, aku tak bisa bicara. Aku tak tega. Rani teman baikku

Ya, itu cuma kecurigaanku. Mungkin aku yang salah hitung. Tapi setelah 3 jam berkutat di meja kerjaku, aku makin didera was-was: dua bulan ke depan aku takkan dapat gaji.

“Ma, apa hari minggu ini,kita takkan jalan-jalan lagi?” tanya Virni,gadis kecilku. Aku mendesah kesal. Tak sengaja menggebrak meja.
“Virni! Jangan nganggu mama! Mama lagi sibuk!” jeritku tanpa memandangnya. Kuhitung lagi angka-angka di pembukuan. Ia pergi.
“Ma,ada topeng monyet! Aku mau nonton topeng monyet!” teriaknya dari teras.
“Virni! Kamu tidak boleh nonton topeng monyet. Bahaya!” balasku.
‘Tapi ma…”

Lalu aku tak bisa mendengar kata-kata putriku. Mendadak angka-angka di pembukuan berputar-putar, membentuk pusaran angin. Lama-kelamaan jadi topan yang sangat besar dan menelanku.
“Ma, ada monyet!” jerit putriku senang, seolah ia tak pernah melihat binatang itu sebelumnya.
“Aaaahhh! Mama…!!” Ia berteriak kesakitan. Aku kaget. Buru-buru aku berlari meninggalkan ruangan menuju teras. Dan astaga! Seekor monyet yang sedang beratraksi itu menggigit jari-jari anakku.

Aku hendak menarik monyet itu. Tapi tiba-tiba keanehan terjadi. Tubuh anakku mengecil. Semua pakaiannya lepas dan bersamaan dengan itu tumbuh bulu di sekujur tubuhnya serta sebuah ekor di belakangnya. Anakku jadi monyet. Sementara itu, tubuh si monyet yang mengigit anakku membesar. Bulu-bulu panjangnya dan ekornya menghilang, berganti dengan kulit mulus. Ia menjadi putriku. Belum hilang rasa kagetku,si monyet yang menyerupai anakku melepaskan rantai di lehernya dan memberikannya pada anakku yang telah jadi monyet.Lalu si monyet yang jadi manusia itu memakai pakaiannya. Aneh! tak ada satupun dari penonton yang menyadari selingan atraksi itu.Tak ada yang kaget, seolah tak terjadi apa-apa.

Tetabuhan khas topeng monyet pun dimulai lagi,sekali-kali diiringi nyanyian sang pawang. Aku yang sama sekali tak mengerti dengan apa yang barusan terjadi, hanya terdiam di tempat. Tak mampu bicara.
Lantas sang pawang memerintahkan anakku seperti dalam atraksi topeng monyet.

“Ayo sekarang, Virni, pergi ke pasar. Bawa keranjang, pakai payungnya.”
“Virni,sekarang berdandan dulu,kan mau ke pesta.”
Tiap kali memerintah, ia selalu mengancam anakku dengan cambuk yang terselip di pinggangnya. Anakku kontan ketakutan dan melakukan apa yang diperintahkan. Penonton tertawa senang sementara anakku meskipun diam, aku tahu hatinya luka.

Tak lama berselang, pawang itu memerintahkan anakku untuk meloncati sebuah tali plastik yang setinggi leher manusia dewasa, yang terbentang sepanjang 2 meter dimana masing–masing ujungnya diikatkan pada dua buah pohon jambu yang berhadapan. Anakku mencoba. Dan seperti yang bisa diduga. Kakinya tak bisa melewati, bahkan mencapai tali itu pun tidak.

Sang pawang marah. Dimaki-makinya anakku dan…”ctaaarrrr…!! ctaaaarrr..!!!” Dicambuknya anakku berkali-kali di kaki, tangan, bahkan badannya. Putriku hanya diam, tubuhnya gemetar. Aku menangis sejadi-jadinya. Tak ada seorang pun dari penonton yang berusaha mencegah perbuatan sang pawang.
Mereka seolah bisu, tak punya hati.

Si monyet alias anakku itu menatapku. Oh Tuhan! Mendadak seluruh tubuhku gemetar hebat, bagai tersengat listrik. Matanya menangis. Dia merintih. Suaranya jelas sekali di telingaku.”Ma….Mama….” Serta merta kupejamkan mata, tak tahan aku melihatnya.

Kubuka mataku. Mendadak suasananya berubah. Tak ada penonton,hanya sebuah ruangan yang aku kenal. Kamar anakku. Di sudut sana, astaga! Aku melihat diriku sedang berdiri dengan wajah mengerikan di depan anakku yang hanya berbalut handuk.

“Ya Tuhan, Virni! Sudah jam berapa ini? Kau terlambat lagi ke sekolah. Gara-gara kamu mama selalu terlambat kerja karena harus mengantarmu dulu. Gara-gara kamu , mama bisa dipecat,tahu!” Gadis kecilku hendak bicara, tapi ‘aku’ segera memelototinya. Buru-buru dipakainya seragamnya. Tubuh kecil itu pun gemetar saat terbalik memakai dasi.
“Aduh! Sudah kelas 2 SD, masa pasang dasi saja tidak bisa. Masa semua harus mama yang lakukan.” ‘Aku’ memarahinya sambil menjewer telinganya.
‘Kami’ pun siap berangkat. Dan saat mencapai teras, putri kecilku itu berkata lirih, ” Ma, aku mau pipis.”
Tanpa pikir panjang, kucubit perutnya sampai ia mengaduh kesakitan. Kupukul kakinya berkali-kali.
“Kamu ini bisanya menyusahkan mama saja. Sudah tahu terlambat bikin ulah lagi. Awas kalau kamu macam-macam lagi.”

Putri kecilku menangis sesungukkan, tapi ‘aku’ tak peduli. Pintu rumah dikunci. Dan aku didalamnya tak bisa melihat apa-apa lagi. Hanya suara motor yang menderu, pertanda ‘aku’ dan putriku telah berangkat.
Terduduk aku disana dengan hati penuh luka. Oh Tuhanku…. Seperti itukah aku pada putriku? Mendadak pesan almarhum suamiku sebelum ia meninggal setahun yang lalu terngiang di telinga,” Des, jangan kau sakiti putri kecil kita.Hatinya begitu lembut. Dia anak baik. Sayangilah dia sepenuh hati,agar dia tidak berlarut-larut sedih karena kehilangan aku, papanya.”

“Maafkan aku mas. Maafkan aku….” rintihku. Sungguh aku menyesal.Ya, aku tak ubahnya seperti sang pawang. Aku memperlakukan anakku seperti topeng monyet.
*******

Sesuatu menggoncang-goncang tubuhku dengan kuat. Mataku terbuka. Sejenak kukerjap-kerjapkan mata. Sebuah wajah mungil penuh was-was muncul di depanku. Wajah putriku.

“Topeng monyet.” Gumamku spontan
“Sudah lama pergi.”
Aku tercenung agak lama, mencoba mencerna ucapan putriku barusan.Seketika kau pun berdiri,melihat sekeliling.Ya Tuhan! Apa itu tadi? Mimpi buruk? Atau apa?
“Mama tidak apa-apa? Tadi mama tidur sambil mengigau dan menangis.Apa mama sakit?” Kurasakan sesuatu menusuk hatiku. Ya, suara lembutnya. Sifat penuh perhatiannya berasal dari papanya. Tak terasa air mataku menetes.

“Tidak sayang, mama tidak apa-apa.” Ia diam.Wajahnya menunduk seolah ada sesuatu yang ia pikirkan tapi tak mau ia katakan. Ya, aku tahu.
“Mau jalan-jalan hari ini? Mama akan menemanimu kemana pun kamu mau.”
Senyumnya mengembang, manis sekali. Lantas ia meloncat,mengalungkan kedua tangannya di leherku dan menciumi seluruh wajahku sambil tertawa. Ini adalah hal termanis yang aku dapatkan darimu,putriku.
******

Di taman kota,aku dan putriku duduk di bawah sebuah pohon rindang. Kami mengobrol lepas. Sudah lama kami tak melakukannya.Lantas kutanyakan hal itu.

“Menurut Virni bagaimana, misalnya selama 2 bulan ke depan, mama tidak bisa memberimu uang jajan, karena mama tidak mendapat gaji.” Ia menatapku sejenak, dan tersenyum.
“Tidak apa-apa.” jawabnya
‘Kenapa?” tanyaku, heran
“Karena kata papa, aku punya tabungan atas namaku.Dan aku boleh memakainya kalau aku sudah besar nanti atau kalau aku butuh uang. Mama boleh kok memakainya.”

Aku tersentak,kaget. Jujur,aku tak pernah tahu hal ini.Mas Iqbal, kupikir kau tak pernah peduli dengan masa depan anak kita, hingga aku mesti kerja keras mengumpulkan uang.

Anakku lalu pergi membeli es krim. Tak lama kemudian, ia kembali, bukan hanya dengan 2 batang es krim di tangannya, tapi bersama suami dan anak-anak Rani. Aku sontak berdiri. Kusongsong mereka. Dua bocah laki-laki itu mendorong kiri-kanan kursi roda ayahnya.

Aku dan laki-laki setengah baya di kursi roda itu bertatapan sejenak. Laki-laki itu harus diamputasi kakinya karena ia terjepit di bawah reruntuhan gerbong kereta api dalam sebuah tragedi tabrakan kereta api 4 bulan yang lalu.
“Ada apa ya mas Bayu, mencari saya?”
Dengan agak malu-malu, laki-laki itu menyodorkan sebuah amplop coklat yang sedari tadi dipangkunya. Aku membukanya. Masya Allah! Isinya uang 3 juta lebih.
“Dik Deswita,itu saya kembalikan uang yang diambil Rani. Maaf sekali saya sudah memakainya 500 ribu untuk membeli obat Rani.” Aku terpaku.

“Saya atas nama Rani minta maaf sekali pada Dik Deswita bila sempat membuat adik bingung. Mohon juga sampaikan maaf Rani pada pak Romi. Insya Allah sisa uangnya akan saya kembalikan 2 hari lagi.”
Mereka bertiga pergi.Aku sedikit lega dua hari lagi ia akan mengembalikan sisanya. Tunggu, darimana ia bisa mendapatkan uangnya? Ia kan tidak bekerja lagi.
“Ma, kasihan si Aldi,” sela anakku,menyebut salah seorang anak Rani.” Dia bilang besok rumahnya akan dijual dan mereka akan mengontrak di rumah yang sangat kecil.”

Hatiku tergetar.Tak mungkin, aku tega melihat teman baikku dan keluarganya menderita.Aku pun berlari mengejar mereka. Kuserahkan uang itu. Mas Bayu menolak. Tapi aku mendesak. Ia menerimanya. Aku tahu betapa sedihnya tidak mampu berbuat banyak demi orang yang dikasihi.
“Ma, aku mau menyumbangkan setengah dari tabunganku untuk mama Aldi.”

Aku menatap putriku lalu melintaslah ide itu. Masalah ini bisa diselesaikan. Kenapa aku tidak menggalang dana para rekan kerja untuk Rani. Asuransi kesehatan dari perusahaan saja tidaklah cukup untuknya. Ia butuh sesuatu yang lain. Kan kukatakan pula yang sebenarnya pada Pak Romi.Ya, ia boleh memotong gajiku

Kutarik putriku dan kubiarkan ia duduk di atas pangkuanku.
“Kau tahu sayang, kau satu-satunya harta mama yang paling berharga. Mama janji,takkan lagi menyakitimu.”
“Mama tidak pernah menyakitiku. Mama memukulku karena mama sayang aku. Kata papa aku harus patuh pada mama karena bagi kami mamalah orang paling istimewa di dunia ini.”

Air mataku menetes tak tertahan. Terima kasih ya Tuhan ,karena telah menganugerahkan Virni padaku.
*******

Palembang, 1 September 2008