suatu malam, sebelum saya beranjak tidur, saya memeriksa facebook saya. Terkejut saya mendapati sebuah postingan yang ditujukan buat saya.

sebuah biografi singkat yang dituliskan oleh seorang sahabat buat saya, bernama Oksa Putra Yuza. terima kasih sudah mengingatkan saya tentang perjalanan saya dan mimpi saya dua tahun kemarin.

ini dia tulisan yang dia buat untuk saya

 

Jejak Sang Gadis Pohon
Untuk Kianinara Kei

Di taman kota, di lalu lalang kendaraan yang berseliweran, di senja yang mempesona, aku menulis jejaknya. Kianinara Kei. Si Gadis pohon yang memberikan kebahagiaan pada sekelilingnya. Itulah arti dari nama pena yang indah itu. Aku sengaja mengundangnya ke taman kota ini. Untuk menanyakan lebih banyak tentang dunianya. Tetapi di sini aku hanya akan bertanya tentang dunia yang aku juga menyukainya; dunia menulis.

Pada dasarnya semua orang suka menulis. Pada dasarnya semua orang akan menumpahkan segalanya pada tulisan. Mungkin mereka memulainya dalam sebentuk buku yang dinamai diary. Tetapi mereka menulis karena ingin menulis saja, sebagai bentuk tumpahan rasa, sebagai pelarian dari kesepian yang menakutkan. Tidak dengan Kianira Kei. Sejak sekolah ia telah memikirkan hal yang mungkin tidak dipikirkan teman-temannya. Di saat sekolah hanya menilai kecerdasan dengan mengelompokkannya ke dalam kelas IPA dan IPS. Saat bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang tidak penting di mata siswa lain. Saat itulah Kianinara Kei memberontak. Ia ingin berbeda dari anak-anak lainnya. Ia suka membaca, ia suka menulis, ia ingin menulis dan orang banyak membacanya. Itulah impian yang hingga detik ini belum jua mati.

Mimpi yang berkobar itu menjadi pemantik tulisan-tulisannya. Hingga pada tahun 2008 puisinya yang berjudul Sayap-sayap Kartini terbit di harian lokal Berita Pagi. Betapa bahagianya Kianinara Kei saat puisinya berhasil tembus media lokal. Bahagia yang mungkin dianggap orang terlalu berlebihan, tetapi itulah kenyataannya. Kebahagiaan penulis adalah ketika ia bisa menyelesaikan sebuah tulisan, dan kebahagiaan paling dalam adalah tulisan itu diterbitkan oleh media.

Dan semangat itu semakin menggelora, hingga pada tahun 2009 yang mungkin aku menyebutnya Kianira Kei telah menjadi kupu-kupu yang cantik. Ia bukan lagi kepompong yang tak bisa terbang. Di tahun itu karya-karyanya dimuat di media nasional. Puisinya dimuat di majalah Keren Beken. Cerpen-cerpennya dimuat di Aneka Yes, Kawanku, Sekar, Says, dan annida online. Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Ya, aku setuju dengan lirik lagu itu.

Akhirnya aku tanyakan padanya tentang cita-cita terbesarnya. Ia tersenyum lalu tersebutlah sebuah nama; Icha Ramanti. Kianinara Kei ingin menjadi Icha Ramanti dua. Ternyata Kianira Kei penggemar tulisan-tulisan Icha Ramanti.

“Aku ingin seperti Icha Ramanti bukan berarti aku tidak menjadi diri sendiri. Aku suka gaya bahasanya, jika membaca tulisannya semangatku kembali menggelora. Aku ingin punya buku yang disukai banyak orang dan akhirnya menjadi buku dengan gelar best seller.”

Semua kita punya keinginan. Tapi bagaimana keinginan itu bisa diwujudkan jika hanya berkeinginan tanpa aksi nyata. Oke, mungkin kita akan terus menulis, tapi ada masanya akan terjadi yang namanya mandek menulis atau writer block. Kianinara Kei memberikan tipsnya. Sediakan waktu khusus untuk menulis, baca karya seseorang yang sangat kita sukai, dan kau harus punya komunitas yang punya hobi sama.

“Untuk menjadi orang yang luar biasa kamu harus jadi orang yang berbeda.”

Itu pesan terakhir yang disampaikan Kianinara Kei padaku. Langit mulai gelap. Lantunan alqur’an telah diperdengarkan. Alam telah memberikan pertanda bahwa aku harus mengakhiri pertemuan ini. Hanya ucapan terimakasih yang kuberikan padanya.

Kianinara Kei semoga jejakmu tak terhapuskan. Akan selalu abadi. Ya, menulis adalah jalan mengabadikan nama. Seperti R.A Kartini pahlawan wanita yang lebih dikenal dari pahlawan wanita lainnya. Kenapa? Tentu saja karena menulis. Menulis bukan hanya sekedar menulis. Tapi menyebarkannya hingga terbaca dunia.