bunuh-diri(cerita ini pernah dibukukan bersama kisah-kisah nyata lain yang bertema cerita misteri)

Gantung diri. Siapa yang tak tahu kata ini?

Berita tentang gantung diri pun seringkali kita jumpai di televisi maupun di koran, seolah sudah menjadi hal lumrah untuk dilakukan. Nauzubillahiminzalik.

Tapi pernahkah kamu berpikir tentang apa yang terjadi pada keluarga atau para tetangga sepeninggalan orang yang gantung diri itu? Dimandikan, dikafani lantas dikubur atau dibacakan surat yasin selama hitungan hari-hari tertentu seperti yang biasa dilakukan oleh masyarakat, begitu saja? Kalau kamu berpikir hanya sebatas itu saja urusannya, maka kamu salah.

Coba simak baik-baik ceritaku.

Karena ini akan membuka pemikiran baru padamu tentang secuil saja dunia gaib itu.

Aku baru tinggal di komplek mega Asri I ini selama setahun ketika peristiwa gantung diri itu terjadi. Lebih tepatnya di tahun 1996 saat aku masih kelas 5 SD.

Siang yang damai itu tiba-tiba gempar. Terdengar jeritan seorang wanita yang menyayat hati dari dalam rumahnya yang terletak di seberang rumahku. Sontak para tetangga keluar dari rumah mereka dan menyerbu rumah sang wanita. Dia keluar dengan wajah pucat dan tegang. Mulutnya memanggil lirih nama suaminya, Murni, yang merupakan seorang tukang becak di komplek kami.

Ayahku yang ikutan panik mengecek ke dalam rumah lantas keluar dan memberitahu warga dengan suara tercekat bahwa suami wanita itu gantung diri di depan pintu kamarnya dengan menggunakan tali jemurannya.

Tak ayal lagi, kehebohan pecah. Orang-orang bahkan dari luar komplek berbondong-bondong datang, mengerumuni rumah itu. Bahkan sampai polisi dan mobil ambulans datang, membawa jenazah itu ke rumah sakit, orang-orang masih saja berdiri memadati jalan di depan rumahku itu.

Namun, ada cerita lirih yang tak mereka tangkap.

Segera setelah sang istri keluar dari rumah itu dan menuju rumah seorang tetangga untuk menenangkan diri, dia jatuh pingsan. Dan dari cerita yang aku dapat dari ayahku, wanita itu bermimpi bertemu dengan arwah suaminya dan sang suami mengajaknya pergi. Untung saja wanita itu bisa cepat disadarkan dengan bantuan bawang putih.

Semenjak peristiwa itu, komplek perumahanku yang biasanya ramai di malam hari, mendadak mencekam mulai pukul 7 malam. Tak ada seorang pun yang berani keluar rumah, entah kenapa. Bahkan jalan di depan rumahku yang biasanya jadi tempat nongkrong para remaja laki-laki sepi, tak dihampiri lagi. Seolah mereka takut. Ya, takut.

Tetanggaku, Bu Elis, tak jarang bergurau dengan ibuku, memintaku ibuku hati-hati, kalau-kalau nanti malam ada yang mengetuk pintu rumah. Dan ibuku balas bergurau, meminta tetangga kami itu hati-hati siapa tahu, arwah laki-laki itu datang, mengetuk pintu rumahnya untuk membeli rokok, seperti yang biasa ia lakukan semasa hidup.

Dan tahukah kamu aku mengalami peristiwa-peristiwa mistis pada malam selepas laki-laki itu meninggal dan pada suatu malam beberapa minggu setelahnya.

Apa yang kualami ini tak kuberitahu pada siapapun. Karena saat itu aku masih kecil, dan aku belum mengerti apa-apa tentang peristiwa apa yang telah aku alami.

Di malam selepas tetanggaku itu meninggal, tiba-tiba aku terhentak terbangun. Aku menatap sekelilingku lantas dilanda kebingungan dengan apa yang barusan terjadi. Ya, aku merasa hilang kesadaran alias pingsan dan saat bangun sudah berada di tempat tidur.

Pelan-pelan aku mengingat bahwa aku memang berada di tempat tidur, hendak tidur. Aku yang tak mengerti dengan apa yang terjadi, dengan cepat melupakan hal itu dan memejamkan mataku kembali.

Pada malam kedua, aku putuskan untuk membacakan Alquran untuk meredakan hatiku yang sejujurnya agak takut. Dan syukur Alhamdulillah, peristiwa seperti malam pertama itu tak terjadi lagi padaku.

Hari-hari pun berlalu. Suasana di komplek belum juga mereda kesunyiannya. Sekali dua aku pernah mendengar suara ketukan di pintu di atas pukul sembilan ketika aku masih sibuk belajar, tapi dengan cepat suara itu tak kuhiraukan.

Kabar yang mengerikan pun segera beredar. Orang-orang mengaku melihat atau mendengar becak berjalan di tengah malam.Dan mereka menuding itu hantunya Murni yang sedang mengayuh becak. Lagi-lagi aku tak menghiraukannya.

Tapi suatu malam, aku mengalami peristiwa itu sendiri. Sebuah peristiwa yang walaupun hanya beberapa menit terjadi, tetapi tak pernah lepas dari ingatanku. Betapa mengerikannya.

Tengah malam itu, tiba-tiba aku terbangun. Telingaku menangkap suara deritan yang terus menerus seperti suara pagar yang sudah lama tak diberi oli. Makin lama suara itu makin jelas dan hatiku dilanda kecemasan. Keringat mengucur tanpa sebab. Aku mencoba mencari-cari alasan logis atas suara yang begitu mencekam itu. Satu-satunya pemikiran yang masuk di kepalaku adalah mungkin saja itu suara derit ayunan yang dipakai oleh tetangga sebelahku untuk menidurkan anaknya yang masih dibawah 2 tahun.

Tapi lantas hatiku menepisnya, mana mungkin suara derit ayunan bisa terdengar kuat dan jelas begitu. Aku pun tak menemukan jawaban lantas hanya pasrah mendengarkan suara derit itu terus menyeruak, menguasai telinga dan pikiranku.

Dan anehnya aku sama sekali tak bisa tertidur. Tidak bisa! Ingin rasanya kupanggil orang tuaku yang tidur di kamar sebelah tapi mulut ini rasanya terkunci. Ada keinginan untuk mengintip ke jendela untuk melihat suara darimana itu tapi dengan segera aku urungkan.

Aku menunggu dan menunggu menit demi menit berjalan dengan lambat. Dan akhirnya suara itu menjauh. Aku pun bisa tertidur dengan pulas. Belakangan setelah aku mencerna dengan seksama cerita-cerita orang, aku pun bisa menyimpulkan bahwa suara deritan yang kudengar malam itu adalah suara kayuhan becak.

Ya Tuhan, untung saja aku tak mengintip ke jendela. Bila tidak, aku tak bisa menjamin, aku akan baik-baik saja malam itu.

Rupanya selain diriku yang mengalami peristiwa mistis (sebenarnya ayah juga mengalaminya tapi beliau enggan menceritakan), tetangga yang tinggal di belakang rumah sang almarhum juga mengalaminya.

Dia bercerita bagaimana hampir setiap malam dia mendengar orang menimba air di sumur di rumah itu. Dan anehnya di malam ke-empat puluh, suara menimba air itu terdengar begitu sering, lain dari biasanya. Seolah sang hantu hendak bersiap-siap pergi ke suatu tempat dan takkan kembali.

Dan ternyata yang terjadi memang begitu adanya. Sesudah malam ke-empatpuluh, tak lagi terdengar suara menimba air pun suara kayuhan becak.Semua hilang. Dan pelan-pelan, kecekaman di malam hari di komplek kami sirna.

Itulah pengalaman mistis yang sampai saat ini masih melekat di ingatan. Satu hal yang kupelajari bahwa dunia gaib itu ada. Dan yang lebih penting lagi, orang yang mati gantung diri, arwahnya akan gentayangan dan menganggu orang lain.

Entah apakah itu benar-benar arwah yang gantung diri ataukah jin atau setan yang menyamar.

Waulahualam wabisahab. Hanya Allah yang tahu. Dan yang paling penting, sesulit apapun masalah yang dihadapi, jangan pernah berpikir untuk bunuh diri.

Semoga kita adalah orang-orang yang senantiasa dilindungi oleh-Nya. aamiin