dimuat di berita pagi tanggal 15 juni 2008

 

KESEPIAN VS ENGKAU

Dengar!
Kesepian itu teman paling mengerti
Tak bertanya, “apa kabarmu?, tapi “bagaimana perasaanmu?”
Tak meminta,”dimana rumahmu?, tapi,” siapa di rumah bersamamu?”
Tak memaksa,”apa pekerjaanmu?, tapi,” senang bekerjakah dirimu?”

Lihat!
Kesepian itu teman sejati
Teman minum kopi tiap pagi
Bertanya mau makan apa hari ini
Pun temani tidur
Sampai terbuai mimpi

Rasakan!
Kesepian itu teman abadi
Bergejolak dalam imajinasi
Menyerupai keinginan hati: sempurna!
Bukan seperti kau!
Kau hilang ditelan malam
(Dan kau menatapku sambil menggeleng. Maafkan aku, aku tak sesempurna itu, katamu.
Kau bertanya, kapan ku berhenti dan menerima apa adanya hidup. Tertawa lirih, kau berkata lagi: Kau miris!)

 

CERITA SEBELUM AJAL

 

Suatu kali mentari dan bulan pada mengadu

Mentari: orang-orang mencercaku. Awan jauh dariku

Bulan   : langit sepi. Bintang-bintang pada pergi

Lantas pantaskah mereka mengurung diri

menggerutu, salahkan nasib tak bermata?

Nyatanya mereka tetap disana

Bersama takdir mereka

 

Dan tiba-tiba kau teriak

“Aku bukan siapa-siapa, takkan ada duka pun luka.”

Lebih-lebih mentari dan bulan, kau pakai tiang gantungan kreasi sendiri

Kutarik tanganmu dan kubisiki telingamu keras-keras

“Dengar! aku ruhmu yang gentayangan!”

Kau gemetar hebat, terduduk di sudut

Carut marut

” Mengertikah engkau, aku sedang bercerita. Siapa tahu kau tetap disana, bergandengan dengan hidup, lantas tersenyum dan berkata, ternyata, ini tak buruk!”

 

Suatu kali hati resahmu mengadu

Kekasih pergi, dunia mati

Dan aku menunggu di persimpangan

Tik…tik….tik…

 

 

LELAKI,PELACUR DAN KASURNYA

I.   Tok,tok,tok
Hai penghias malam
Kubutuh dekapan

Pagi menjelang
Mimpi telah usai
Selamat tinggal
( Dan lembaran uang itu seolah menari, mengejek, di depan matanya)

II. Duh tubuh,
Jemukah dirimu?
Ingat bocah kecil itu!

Duh, seakan tiada jendela
Untuk lelahku yang payah
Ini penjara pun terkunci mati
Melihatku pun Ilahi tak sudi

III. Aku saksi bisu
Berapa banyak tubuh bergumul
Kadang darah mengucur
Dan tangis pedih di pagi buta
( kutahu dadanya bergemuruh. Sesal pilunya membatu. Tapi ia enggan
mengaku)