Ramadhan 2008

Ayah sakit, dan dirawat di ruang icu. Kemarin dia nekad minum banyak obat tidur dan akhirnya pingsan. Ibu dan adik bergantian menjaganya, tapi tidak denganku. Toh, dia juga tak peduli padaku

Ramadhan 2009

Ayah sakit lagi. Ia menderita komplikasi penyakit jantung dan ginjal. Ibu dan adik kembali bergantian menjaganya di rumah sakit. Dan aku? Takkan pernah! Kemarin saja saat aku datang, dia marah-marah padaku.  Katanya,” kau ini hanya bawa sial saja datang kesini. Pulang sana!” Dan aku benar-benar pulang. Tak peduli.

Ramadhan 2010

Ayah sakit, lebih parah. Kata dokter, jantungnya bengkak. Hari itu terpaksa aku menjenguknya. Dan saat kutatap tubuhnya yang lemah itu, aku teringat cerita seorang teman. Dia dan ayahnya dulu sangat bertentangan. Hingga suatu saat mereka bisa dekat karena suatu kejadian, sebelum akhirnya sang ayah meninggal. Aku tercekat. Bagaimana bila saat ayah meninggal, aku sama sekali tak berbakti padanya? Aku punya ayah tapi kenapa tak dekat dengannya? Apakah ini karena sikap otoriternya yang sangat kubenci itu?

Ayah terbangun dari tidurnya dan menatapku lekat-lekat.

“Kau sudah datang, nak?”

Sontak aku menangis tak tertahan. Dan kata-kata itu pun terucap dari bibirku.

“Ayah kumohon cepatlah sembuh biar ramadhan tahun depan, kita bisa puasa bersama.”