Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana masa depan seseorang. ya, itu benar.

Karena itu terjadi padaku.

sejak beberapa tahun yang lalu, aku selalu mentasbihkan diri dalam tiga profesi: penulis, guru dan fotografer, namun setahun yang lalu, tiga hal itu mulai berubah.

sebelumnya, ada baiknya aku memperkenalkan diri. Namaku Kianinara Kei. Walau nama itu bukan nama sebenarnya tapi aku lebih suka dipanggil Ms. Kei.

Dari tahun 2008 sampai dengan 2011, aku bangga menyebut diriku sebagai seorang penulis. Belasan puisiku dimuat di sebuah koran lokal di Palembang lalu pelan-pelan cerpenku mulai dimuat di majalah nasional.  dan di tahun yang sama pula, aku mengajar di sebuah kursus bahasa inggris, maka aku dengan bangga menyebut diri sebagai seorang guru. Di tahun 2011, aku mulai menggeluti dunia fotografi–dunia yang notabene-nya juga digeluti juga oleh Alm. papa. maka di tahun itu pula, aku menyebut diriku fotografer, fotografer amatiran persisnya. jadi seperti yang aku katakan dalam tiga tahun itu, aku adalah ketiga profesi itu. 

Tapi semua pelan-pelan berubah ketika aku memasuki tahun 2012. Saat itu kegalauan akan kejelasan karir menerpaku. Ya, kurasa semua orang akan merasakan hal yang sama. Tiga tahun bekerja di suatu tempat tapi masih mendapatkan penghasilan yang tidak sebanding dengan lamanya bekerja, membuatku agak meradang. Menulis pun seperti mood yang akan baik dan jelek. Dan fotografi pun, menjadi hal yang patut untuk dipertanyakan: apakah aku serius atau ini sekedar hobi saja yang artinya takkan aku menghasilkan uang darinya?

tahun itu menjadi tahun yang teramat berat bagiku. Berbulan-bulan mencari pekerjaan kesana kemari. lamaran demi lamaran. tes demi tes, hingga pernah satu kali aku melamar pekerjaan yang sejatinya bertolak belakang dengan latar belakang pendidikanku sendiri. dan hari itu pun tiba, jawaban dari Tuhan atas penantian panjangku. sebuah sekolah memanggilku untuk interview. Tak kusangka, iklan yang cuma beberapa baris itu ternyata diiklankan oleh sebuah cabang sekolah internasional yang namanya cukup dikenal luas di kota ini.

Awalnya, aku hanya diminta untuk mengajar pelajaran ekstra kurikulernya saja. itu sama sekali tak mengurangi rasa senangku karena aku akan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik. Namun lama kelamaan, aku mulai berpikir, bila hanya jadi guru ekstra kurikuler, lantas kapan aku menjadi guru mata pelajaran? bukankah sama saja bohong artinya kalau aku keluar dari pekerjaan lama demi mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang tak sesuai? Ya, aku mulai meragukan itu tapi kemudian lagi, Tuhan punya rencana.

Seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris kelas 5 bermasalah dengan siswa-siswanya. Siswa-siswa itu lantas meminta agar guru itu digantikan. Alhasil aku yang hari itu sedang beruntung datang demi mempertanyakan jadwal mengajarku, ditawari untuk menggantikan sang guru tersebut. itulah keajaiban, sebenar-benarnya keajaiban. tak kuduga, pekerjaan itu memang sudah ditakdirkan untuk jadi rezekiku.

dan inilah aku di sekolah itu. Aku memulai langkahku di sana pada bulan Mei. menjadi guru bahasa Inggris untuk kelas 4,5 dan 6 untuk sekolah bertaraf Internasional. Yap, sebuah sekolah yang sejak lama sudah jadi angan-anganku. Sesuatu yang lebih baik dan menantang. Tentu saja, karena kurikulum bahasa Inggris yang mereka pakai adalah kurikulum Singapura dengan memakai buku teks My Pals.

Aku kembali menjadi guru, tapi tidak untuk penulis dan fotografer. Kedua hal itu seolah termakan oleh kesibukan hidupku yang lain. Dan sampai suatu ketika di bulan Agustus, kalau tidak salah, aku diminta langsung oleh kepala sekolah untuk menjadi pelatih dalam lomba-lomba  bahasa Inggris. Sebelumnya aku sudah memberitahu Bu Kepala Sekolah kalau di tempat pekerjaanku yang lama, aku sekali-kali melatih para siswa yang akan mengikuti lomba bahasa Inggris.

dan dari disinilah, catatanku yang sebenar-benarnya dimulai.

Aku masih lomba pertama yang aku latih adalah lomba spelling bee ( mengeja). Saat itu sebuah kursus bahasa Inggris ternama di kota ini mengadakan kompetisi itu. mereka mengadakannya tiap tahun untuk tingkat SD dan SMP. Kami mengikuti kedua tingkat itu. Untuk tingkat SD, kami hanya mengirimkan beberapa saja, namun untuk tingkat SMP, kami mengirimkan lebih dari 20 anak. Beberapa kali aku melatih mereka. Ya, aku sendirian.

19 september 2012, hari minggu, itulah hari perlombaannya.

aku masih ingat wajah-wajah polos siswa-siswa kelas 7 yang baru pertama kali ikut lomba, sementara untuk siswa SD, sudah ada yang mengikuti sebelumnya. Satu-satunya yang membuat lomba ini bergengsi adalah karena mereka memakai native speaker.

Lomba itu terdiri dari tiga babak. babak pertama penyisihan, kedua semi-final dan ketiga final. Beberapa siswaku masuk ke babak semifinal. namun di babak final masing-masing dari tingkat itu hanya satu orang. Untuk tingkat SD, putri kepala sekolah yang lolos dan untuk tingkat SMP, seorang siswa yang berdarah Korea. Pertandingan itu cukup sengit,setidaknya bagi aku sendiri yang baru pertama kali menyaksikan langsung pertandingan itu. Mereka para finalis masuk di dalam sebuah ruangan. satu per satu maju, mengambil kata-kata mereka dalam bentuk kertas yang digulung dan dimasukkan ke dalam pipet. Mereka mengambil lima kata, dan satu per satu dari keempat native speaker itu akan menyebutkan kata itu di depan mereka. Dua kali pengulangan dan mereka harus mengejanya dengan tepat. Tingkat kesulitan tentu saja ada. Mereka native speaker dan tak semua anak bisa menangkap dengan jelas kata yang mereka maksudkan.

Hari itu lomba ditutup dengan sang siswa Korea yang mendapat urutan ke-6 sementara putri sang kepala sekolah tak mendapatkan juara sama sekali.

kemenangan itu adalah kemenangan pertama bagi siswa kelas 7, angkatan pertama bagi SMP itu. dan hal yang masih aku ingat, sang kepala sekolah memberikanku sebuah kenang-kenangan untuk prestasi itu. kecil tapi akan selalu kuingat. hadiah pertamaku.

lomba spelling bee di tahun itu merupakan lomba pembuka bagi lomba-lomba lainnya yang kami ikuti. dan dalam setiap perlombaan, selalu terselip cerita haru, bahagia ataupun sedih.

inilah aku sang pelatih…